Aside 1

And I think unfortunately a lot of education is very vaudevillian. You’ve got someone standing up there kind of lecturing at people, and they have done the same lectures 20 years in a row, and they’re not very excited about it, and that lack of enthusiasm is conveyed to the students, such that they’re not excited about it. They don’t know why they’re there. Like, “Why we are learning the stuff? We don’t even know why.”

In fact, I think a lot of things people learn — probably — there is no point learning them — because they never use them in the future.

I think in general, conventional education should be massively overhauled.

— Elon Musk

School Doesn't Guarantee An Education

I strongly believe in education. I believe that it doesn’t matter where you get it, how you get it, whom you get it from.

What matters is the amount and quality of education you have.

People thought that the only education they can have is those which thought in school. People forget that school is only one of a million way to gain education.

School itself is a very limited source of education. School is not for everyone, but education is.

I believe there’s a flaw in our current education system.

People tend to believe that score is somewhat their ultimate goal in an academic system. It judges how smart or dumb a person is.

Lots of brilliant people believe they were once idiot because they were labeled so. Turns out they were not. They’re just not interested, that’s all.

School forces unique people on a single system. A system which was designed in the industrial age as an effective model to produce workers. A factory line, I suppose.

People are different. People learn best differently. Some love to learn by themselves, and some love to collaborate. Some learn by experiencing, and some learn by reading books and sitting down quietly in classroom. Foremost, people have different interest.

God is fair. We’re born equal. We have the same potential as everybody does. Talent is a myth and totally overrated. How do one quantify talent? It’s silly. Anyone can be as smart/skilled as they want, but the question is whether they want to be on that level? The point is, everyone has equal potential. We just have to trigger the right switch.

School indeed teaches us how to think and solves problem. But why standardized test is still a huge part in the system? Why would one tries to solve a problem by sitting all by himself in a room, prohibited to collaborate with peers, not allowed to go check on references, discuss with people, because otherwise it would be considered as cheating.

This leads to the fact that school is not there to make you learn. It’s there to have you study. Studying, not learning. Eventually students are not there to gain education, but solely for a number ranges from 0 to 100.

I believe in education. I believe in school. But I don’t believe in the current education system.

Nilai Anda = Kecerdasan Anda

Apakah anda merasa muak dengan paradigma:

Nilai Anda = Kecerdasan Anda

Apakah anda sering mendengar teman, guru, atau kerabat anda mengatakan, “Wah nilainya tinggi ya, pasti dia pinter.”

Jujur saya kurang sreg dengan menjadikan hasil nilai ulangan sebagai tolak ukur tingkat intelegensi yang kita punya.

Tanpa anda sadari atau enggak, tapi kenyataannya, terutama di sistem pendidikan sekarang, kalau nilai anda jelek anda akan dicap bodoh.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut benar?

Nilai yang dihasilkan mostly *dari *standardized test ini sebenernya diperuntukkan untuk mengukur apa?

Mengukur tingkat kecerdasan atau justru tingkat PEMAHAMAN siswa akan suatu materi?

Atau justru KETERTARIKAN siswa pada materi tersebut?

Masalah diatas kurang lebih sepele bila dilihat dari satu sisi, tapi faktanya banyak orang yang merasa terintimidasi bahkan percaya bahwa mereka bodoh karena “nilai ulangannya” jelek.

Pertanyaannya lagi, mengapa banyak orang yang tidak melalui sistem pendidikan formal, mendapat nilai jelek, dropout, mempunyai masalah disleksia, ADHD, justru berhasil mengarungi dunia “nyata”?

Padahal mereka kan seharusnya bodoh, kok bisa?

Paradigma diatas muncul karena sistem sekolah sekarang (industrialized school system) sudah tidak relevan dengan era dimana kita hidup sekarang.

Sekolah itu sendiri dilahirkan pada era industri dan merupakan sebuah sistem untuk menciptakan workers.

Didesain sedemikian rupa agar para siswa yang berhasil melalui sistem tersebut memiliki sifat obedience (patuh).

A perfect candidate for workers.

Education is modelled on the interest of industrialisation and in the image of it. Schools are still pretty much organised on factory lines: ringing bells, separate facilities, separate subjects, educate children by batches (age group). Why is that this assumption but the most important thing kids have in common is how old they are. Well I know kids are much better than other kids of the same age in different disciplines, or different times of the day, or better in smaller groups and large groups, or sometimes they want to be on their own. If you’re interested in the model of learning you don’t start from this production line mentality.

Sistem sekolah sekarang itu tidak berbeda jauh dengan factory line.

  • Kenapa anda diharuskan mempelajari pelajaran super ngebosenin yang tidak relevan untuk kehidupan anda nantinya (bukan berarti tidak berguna buat orang lain)? Misal anda mau menjadi Web Developer, kenapa anda harus capek-capek menghafalkan sistem respirasi di Krebs Cycle, seluk beluk daripada animal kingdom, nama-nama latin dari spesies antah berantah, belajar cara membalanceredoxequation, cara menyelesaikan soal diferensial/integral?

Jujur saja rata-rata anak belajar H-1 sebelum ujian, terutama anak SMA. Belajar BUKAN lagi untuk ilmu, melainkan untuk MENDAPAT NILAI BAGUS.

Dan nilai tersebut akan menjadi bukti konkrit bahwa anda termasuk anak yang “cerdas”. Studying not learning.

Oke, mungkin ada orang yang berpendapat: “Untuk mengasah cara berpikir” atau “membentuk pola pikir”.

Well, saya sih setuju-setuju saja.

Mengerjakan soal matematika/fisika/sejenisnya pasti berguna untuk melatih* problem solving skill*, bukan?

Bagaimana dengan sekian informasi yang diketahui dan beberapa tools (rumus) yang kita pegang, kita menyelesaikan permasalahan yang ada, ya tidak?

Masalahnya, kalo ingin mengasah* problem solving skill*, anda mengerjakan TTS, Sudoku, atau main DoTA juga sama-sama mengasah keterampilan tersebut.

Jadi, kenapa kita harus repot-repot mempelajari puluhan materi yang sama sekali tidak membuat kita tertarik dengan mengatasnamakan ‘pola pikir’/’mengasah cara berpikir’?

Mengapa kita tidak dicekoki hal-hal yang memang kita sukai DAN sekaligus bisa meningkatkan problem solving skill.

Kenapa lo di tes dengan cara duduk diem, dikasih beberapa lembar kertas, gak boleh diskusi, gak boleh cari referensi, karena kalau enggak berarti lo curang.

Tujuannya kan satu: memecahkan masalah.

Memangnya ketika anda masuk ke dunia kerja, lalu kemudian ada masalah muncul, bos anda (atau siapapun) akan menyuruh anda duduk diam, tidak boleh diskusi/berkolaborasi, tidak boleh turun ke lapangan, pokoknya duduk manis dan tulis jawabannya di kertas.

Apakah itu yang dilakukan orang-orang?

Standardized test *hanya diperuntukkan untuk kasus-kasus tertentu saja, *in *most cases* kita tidak butuh standardized test.

Tampaknya masalah perihal sistem pendidikan kurang digubris di Indonesia.

Mungkin anda bisa menyimak tayangan dibawah ini. Cobalah untuk membuka pikiran, challenge your conviction.

Buat anda yang males nonton atau sekedar hemat kuota, saya kasih sedikit sinopsis.

Kita selalu diberi tahu oleh semua orang (orang tua, saudara, guru, kerabat, dan lainnya) untuk:

Study hard –> get good grades –> college –> get a job

Belajar yang giat –> nilai tinggi –> kuliah bergengsi –> dapet pekerjaan

Dari yang beberapa referensi yang saya baca, alasan dibalik kita yang selalu dicekoki dengan pola pikir tersebut adalah karena pola tersebut terbukti berhasil JAMAN DULU.

Ya, di jaman industri anda bisa dengan mudah climb the *corporate ladder *kalo anda punya ijazah dari universitas terkemuka dan anda bersedia bekerja keras.

Ketika anda umur 55-65, anda bisa pensiun dengan tenang, dapat banyak tunjangan dari perusahaan dimana anda bekerja.

Tapi sekarang peraturan sudah berubah.

Tangga tidak akan semulus dahulu, akan ada banyak sandungan-sandungan. Ekonomi sekarang sudah jauh berbeda, sudah tidak sama seperti dulu lagi.

Apa yang dulu dirasa tidak mungkin, sekarang mungkin.

What used to work, doesn’t work, what doesn’t work, now works.

Punya ijazah tentu lebih baik daripada tidak punya sama sekali, tapi ijazah tidak lagi bisa memberikan jaminan yang sama layaknya dahulu kala.

Masalahnya tidak berhenti di situ saja.

Public Education sekarang terbelah menjadi dua kubu, orang akademis dan orang non-akademis. Orang akademis dilabel pintar, orang non-akademis dilabel bego.

Banyak orang yang sebenarnya brilian justru merasa bodoh karena mereka dipandang sebagai orang yang bodoh di lingkungan akademik.

Pasti anda sering dengar cerita-cerita seperti ini, bukan?

Simpelnya, lihat saja Thomas Alva Edison, atau kalau kesannya terlalu old school, coba berpaling pada Richard Branson atau Robert T. Kiyosaki.

Sebenarnya apa sih yang menjadikan orang dikategorikan pintar? Apa sih kecerdasan itu? Mengapa IQ begitu disembah di lingkungan akademik?

robert kiyosaki

Robert T. Kiyosaki menjelaskan bahwa tiap manusia itu unik, dan oleh sebab itu tiap individu memiliki cara belajar yang berbeda-beda.

Ada orang yang belajar paling efektif di kelas sembari membaca *text book *dan mencatat penjelasan guru.

Tapi ada pula orang-orang yang cenderung bosan ketika di kelas, ia lebih menyukai belajar sambil bergerak (kinestetik).

Ada juga yang dapat menyerap lebih baik dengan menonton video dan mencari referensinya secara online (seperti saya).

Sekolah berasumsi tiap individu memiliki cara belajar yang sama.

Pihak sekolah merasa langkah yang dilakukannya benar, karena pihak sekolah diisi oleh orang-orang yang berhasil di lingkungan akademik.

Cara belajar yang berbeda tidak lantas menyimpulkan bahwa outcomenya berbeda.

Sekolah menyembah IQ, dan menjadikannya tolak ukur intelegensi yang kita miliki.

IQ ada untuk mengukur kemampuan linguistik/verbal anda yang sangat dibutuhkan di sistem pendidikan kita sekarang. Nilai yang dihasilkan pun sejatinya hanya perbandingan antara:

( usia *mental */ usia anda sekarang ) x 100.

Kalau usia mental anda 18, usia anda sekarang 10, maka nilai IQ anda adalah 180. Tinggi bukan? 🙂

Tapi coba lakukan tes tersebut 8 tahun dari sekarang. Apabila ternyata usia mental anda tetap 18 tahun, maka sekarang IQ anda 100. Turun 80 poin.

Jenis kecerdasan pun ada banyak bentuknya, ada kecerdasan linguistik/verbal, matematis, intrapersonal, intrapersonal, kinestetik, lingkungan, emosional, you name it.

Tuhan itu adil, tiap manusia lahir ke dunia dengan kemampuan yang sama dan memiliki potensi yang sama untuk berkembang.

Sayangnya banyak sekali pihak yang mempopulerkan istilah talent, suatu kemampuan yang datang secara genetis/alamiah, diberikan secara cuma-cuma.

Pertanyaannya, how do you quantify talent?

Seorang anak 5 tahun yang berlatih biola dengan deliberate practice selama bertahun-tahun akan tampak seperti dianugerahi bakat/talenta.

Begitu pula dengan orang-orang yang dicap pintar.

Pintar itu subjektif.

Sesungguhnya semua orang itu berpotensi menjadi pintar.

Sebagaimana semua orang berpotensi mempunyai otot besar apabila dilatih di gym, otak kita terdiri dari neurons yang akan terus menciptakan koneksi-koneksi baru, dan mempererat koneksi yang selalu digunakan.

talent is overrated

Balik ke masalah sistem pendidikan.

Sesungguhnya masalahnya tidak terletak pada pendidikan, melainkan pada sistem pendidikan itu sendiri.

School is not for everyone, but education is.

Sekolah mengajarkan kita bahwa satu-satunya edukasi yang ada adalah edukasi yang diberikan di sekolah.

Lantas kita hanya belajar ketika kita berada di sekolah, tidak ketika kita di luar lingkungan sekolah.

Dan, kita juga belajar bukan untuk ilmu tapi sekedar untuk nilai.

Akan sangat sulit menemui orang yang menghabiskan waktu liburannya untuk memperdalam ilmu fisika, biologi, kimia, atau matematikanya.

Kalaupun ada, kemungkinan besar ia sedang dalam masa preparasi ujian.

Inti dari yang saya coba utarakan di sini adalah:

  • Sistem pendidikan kita bermasalah

  • Cara belajar tiap orang itu berbeda-beda

  • Edukasi tidak hanya bersumber dari sekolah

  • Tiap orang memiliki potensi yang sama untuk selalu meningkatkan kecerdasannya/kemampuannya

Sir Ken Robinson adalah sosok yang cukup kompeten perihal masalah ini, mungkin anda ingin terus mengikuti perkembangannya via Twitter.

Sekian kata dari saya, tulisan dan referensi akan terus dikembangkan dan ditambahkan lebih lanjut.

Referensi:

Coffee Break: Guts to Go Against the Crowd

In my recent days I’ve made several changes to my life. Things that scares me a little, probably way more than a little. But I know it’s worth trying for, and yet, lots of people have done it before, at least in a global scope.

Having an unusual choice seems to be a bit depressing, especially when you’re against conformity. You know it’s possible, but you just can’t feel 100% certain because it doesn’t go along with your local society.

I did these choices through a thorough research, obviously. There’s a fine line between bravery and stupidity, between taking risk and being reckless.

Tons of people in Indonesia knew how to create website, they acknowledge themselves as a “web developer”. These people derives from prestigious universities, you name it.

The problem is that most of them, according to several sources and relatives, doesn’t actually know how to write code. They simply “copy-paste”, thanks to the wildly open sources of code chunks across the internet.

These leads to the shortage of talents, and foremost, a really low annual salary, compared globally.

According to HongKiat, which derives they’re data form PayScale and CoroFlot:

web developer indonesia salary

The annual salary for Indonesia’s web developer is $5,347.00.

And here’s for the senior web developer:

web developer senior salary indonesia

Shockingly it’s the* top 5 country with least wage in the whole fucking world*. Feel free to read the data from well-known local newspaper:

It’s written in 2011, so you probably want to calibrate with recent inflations. So it’s going to be around Rp4 million for juniors, and Rp6-11 millions for seniors.

Still, the preceding data is reported by foreign researcher, what actually occur on the “real world” doesn’t seems to go along (written in Bahasa Indonesia):

Most engineers got paid according to the Regional Minimum Wage, around Rp1,5-2,5 million. And that is, the truth.

Like what I’ve mentioned previously, the reasons behind these facts are:

  • Low skilled developers
  • Not likely to find an IT company nearby

They said there’s a huge demand for software engineers, and when I said “they” I meant the university’s elements: lecturers, professors, dean, etc. Well, that’s what they said, they probably never got into the real world in the first place, they’re researcher not “real” engineers.

You might find this article useful:

It comes to my mind that the only path to strive is to work abroad or build my own startup. Getting a job in my own country is not an option.

I knew that the challenges are tough, I need a profound skill to surpass the barrier. That said, is by going deep on specialisation.

No one is going to pay you plenty of money by being an average. And being an average is what the school is trying to teach you: “Expert at nothing, average at everything.”

The goal is not to have a well paying job, it’s a matter of freedom.

I’m not willing to go for a 9 to 5 job for the rest of my life, hell no. My plan is to gain a substantial cash to buy assets, either by buying a business (including stocks/bonds) or build businesses of my own. Then, I’ll keep increasing my portfolio until I never have to work for a day (financially freedom).

I can do whatever I want to do, dedicate myself to something that truly matters: serving other people.

According to recent surveys done by StackOverflow:

stackoverflow web developer survey

Here’s an insight from Quincy Larson, founder of Free Code Camp:

The most popular way to learn to program is still hitting the books yourself.

Most developers learn through some combination of self-study, on-the-job training, and academic study.

Less than half of developers have a technology-related undergraduate or graduate degree.


I knew that dropping out of school is the real deal despite how prestigious the school might sound (nationally). Anyway, there’s a numerous guide oworkworkn going on your own feet:

One substantial loss is the network. But, I got that covered.

I need to admit learning on your own ass is tough, it requires total discipline. That is when I decided to go for a bootcamp. A lot to pay for the tuition, but the real question is: are you willing to invest in money to gain time, or invest in time to gain money?

This article is solely for the purpose of archive, a memory.

“One of my philosophies is to always pick the choice that scares you. The status quo, the path of least resistance, the everyday routine — that stuff is easy. Anyone can do that. But the right decisions, the decisions that challenge you, the ones that push you to evolve and grow and learn, are always scary.” — Jeff Atwood