Ronaldo Vitto Lewerissa

Software engineering learning documentation.

Nilai Anda = Kecerdasan Anda

Apakah anda merasa muak dengan paradigma:

Nilai Anda = Kecerdasan Anda

Apakah anda sering mendengar teman, guru, atau kerabat anda mengatakan, “Wah nilainya tinggi ya, pasti dia pinter.”

Jujur saya kurang sreg dengan menjadikan hasil nilai ulangan sebagai tolak ukur tingkat intelegensi yang kita punya.

Tanpa anda sadari atau enggak, tapi kenyataannya, terutama di sistem pendidikan sekarang, kalau nilai anda jelek anda akan dicap bodoh.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut benar?

Nilai yang dihasilkan mostly *dari *standardized test ini sebenernya diperuntukkan untuk mengukur apa?

Mengukur tingkat kecerdasan atau justru tingkat PEMAHAMAN siswa akan suatu materi?

Atau justru KETERTARIKAN siswa pada materi tersebut?

Masalah diatas kurang lebih sepele bila dilihat dari satu sisi, tapi faktanya banyak orang yang merasa terintimidasi bahkan percaya bahwa mereka bodoh karena “nilai ulangannya” jelek.

Pertanyaannya lagi, mengapa banyak orang yang tidak melalui sistem pendidikan formal, mendapat nilai jelek, dropout, mempunyai masalah disleksia, ADHD, justru berhasil mengarungi dunia “nyata”?

Padahal mereka kan seharusnya bodoh, kok bisa?

Paradigma diatas muncul karena sistem sekolah sekarang (industrialized school system) sudah tidak relevan dengan era dimana kita hidup sekarang.

Sekolah itu sendiri dilahirkan pada era industri dan merupakan sebuah sistem untuk menciptakan workers.

Didesain sedemikian rupa agar para siswa yang berhasil melalui sistem tersebut memiliki sifat obedience (patuh).

A perfect candidate for workers.

Education is modelled on the interest of industrialisation and in the image of it. Schools are still pretty much organised on factory lines: ringing bells, separate facilities, separate subjects, educate children by batches (age group). Why is that this assumption but the most important thing kids have in common is how old they are. Well I know kids are much better than other kids of the same age in different disciplines, or different times of the day, or better in smaller groups and large groups, or sometimes they want to be on their own. If you’re interested in the model of learning you don’t start from this production line mentality.

Sistem sekolah sekarang itu tidak berbeda jauh dengan factory line.

  • Kenapa anda diharuskan mempelajari pelajaran super ngebosenin yang tidak relevan untuk kehidupan anda nantinya (bukan berarti tidak berguna buat orang lain)? Misal anda mau menjadi Web Developer, kenapa anda harus capek-capek menghafalkan sistem respirasi di Krebs Cycle, seluk beluk daripada animal kingdom, nama-nama latin dari spesies antah berantah, belajar cara membalanceredoxequation, cara menyelesaikan soal diferensial/integral?

Jujur saja rata-rata anak belajar H-1 sebelum ujian, terutama anak SMA. Belajar BUKAN lagi untuk ilmu, melainkan untuk MENDAPAT NILAI BAGUS.

Dan nilai tersebut akan menjadi bukti konkrit bahwa anda termasuk anak yang “cerdas”. Studying not learning.

Oke, mungkin ada orang yang berpendapat: “Untuk mengasah cara berpikir” atau “membentuk pola pikir”.

Well, saya sih setuju-setuju saja.

Mengerjakan soal matematika/fisika/sejenisnya pasti berguna untuk melatih* problem solving skill*, bukan?

Bagaimana dengan sekian informasi yang diketahui dan beberapa tools (rumus) yang kita pegang, kita menyelesaikan permasalahan yang ada, ya tidak?

Masalahnya, kalo ingin mengasah* problem solving skill*, anda mengerjakan TTS, Sudoku, atau main DoTA juga sama-sama mengasah keterampilan tersebut.

Jadi, kenapa kita harus repot-repot mempelajari puluhan materi yang sama sekali tidak membuat kita tertarik dengan mengatasnamakan ‘pola pikir’/’mengasah cara berpikir’?

Mengapa kita tidak dicekoki hal-hal yang memang kita sukai DAN sekaligus bisa meningkatkan problem solving skill.

Kenapa lo di tes dengan cara duduk diem, dikasih beberapa lembar kertas, gak boleh diskusi, gak boleh cari referensi, karena kalau enggak berarti lo curang.

Tujuannya kan satu: memecahkan masalah.

Memangnya ketika anda masuk ke dunia kerja, lalu kemudian ada masalah muncul, bos anda (atau siapapun) akan menyuruh anda duduk diam, tidak boleh diskusi/berkolaborasi, tidak boleh turun ke lapangan, pokoknya duduk manis dan tulis jawabannya di kertas.

Apakah itu yang dilakukan orang-orang?

Standardized test *hanya diperuntukkan untuk kasus-kasus tertentu saja, *in *most cases* kita tidak butuh standardized test.

Tampaknya masalah perihal sistem pendidikan kurang digubris di Indonesia.

Mungkin anda bisa menyimak tayangan dibawah ini. Cobalah untuk membuka pikiran, challenge your conviction.

Buat anda yang males nonton atau sekedar hemat kuota, saya kasih sedikit sinopsis.

Kita selalu diberi tahu oleh semua orang (orang tua, saudara, guru, kerabat, dan lainnya) untuk:

Study hard –> get good grades –> college –> get a job

Belajar yang giat –> nilai tinggi –> kuliah bergengsi –> dapet pekerjaan

Dari yang beberapa referensi yang saya baca, alasan dibalik kita yang selalu dicekoki dengan pola pikir tersebut adalah karena pola tersebut terbukti berhasil JAMAN DULU.

Ya, di jaman industri anda bisa dengan mudah climb the *corporate ladder *kalo anda punya ijazah dari universitas terkemuka dan anda bersedia bekerja keras.

Ketika anda umur 55-65, anda bisa pensiun dengan tenang, dapat banyak tunjangan dari perusahaan dimana anda bekerja.

Tapi sekarang peraturan sudah berubah.

Tangga tidak akan semulus dahulu, akan ada banyak sandungan-sandungan. Ekonomi sekarang sudah jauh berbeda, sudah tidak sama seperti dulu lagi.

Apa yang dulu dirasa tidak mungkin, sekarang mungkin.

What used to work, doesn’t work, what doesn’t work, now works.

Punya ijazah tentu lebih baik daripada tidak punya sama sekali, tapi ijazah tidak lagi bisa memberikan jaminan yang sama layaknya dahulu kala.

Masalahnya tidak berhenti di situ saja.

Public Education sekarang terbelah menjadi dua kubu, orang akademis dan orang non-akademis. Orang akademis dilabel pintar, orang non-akademis dilabel bego.

Banyak orang yang sebenarnya brilian justru merasa bodoh karena mereka dipandang sebagai orang yang bodoh di lingkungan akademik.

Pasti anda sering dengar cerita-cerita seperti ini, bukan?

Simpelnya, lihat saja Thomas Alva Edison, atau kalau kesannya terlalu old school, coba berpaling pada Richard Branson atau Robert T. Kiyosaki.

Sebenarnya apa sih yang menjadikan orang dikategorikan pintar? Apa sih kecerdasan itu? Mengapa IQ begitu disembah di lingkungan akademik?

robert kiyosaki

Robert T. Kiyosaki menjelaskan bahwa tiap manusia itu unik, dan oleh sebab itu tiap individu memiliki cara belajar yang berbeda-beda.

Ada orang yang belajar paling efektif di kelas sembari membaca *text book *dan mencatat penjelasan guru.

Tapi ada pula orang-orang yang cenderung bosan ketika di kelas, ia lebih menyukai belajar sambil bergerak (kinestetik).

Ada juga yang dapat menyerap lebih baik dengan menonton video dan mencari referensinya secara online (seperti saya).

Sekolah berasumsi tiap individu memiliki cara belajar yang sama.

Pihak sekolah merasa langkah yang dilakukannya benar, karena pihak sekolah diisi oleh orang-orang yang berhasil di lingkungan akademik.

Cara belajar yang berbeda tidak lantas menyimpulkan bahwa outcomenya berbeda.

Sekolah menyembah IQ, dan menjadikannya tolak ukur intelegensi yang kita miliki.

IQ ada untuk mengukur kemampuan linguistik/verbal anda yang sangat dibutuhkan di sistem pendidikan kita sekarang. Nilai yang dihasilkan pun sejatinya hanya perbandingan antara:

( usia *mental */ usia anda sekarang ) x 100.

Kalau usia mental anda 18, usia anda sekarang 10, maka nilai IQ anda adalah 180. Tinggi bukan? 🙂

Tapi coba lakukan tes tersebut 8 tahun dari sekarang. Apabila ternyata usia mental anda tetap 18 tahun, maka sekarang IQ anda 100. Turun 80 poin.

Jenis kecerdasan pun ada banyak bentuknya, ada kecerdasan linguistik/verbal, matematis, intrapersonal, intrapersonal, kinestetik, lingkungan, emosional, you name it.

Tuhan itu adil, tiap manusia lahir ke dunia dengan kemampuan yang sama dan memiliki potensi yang sama untuk berkembang.

Sayangnya banyak sekali pihak yang mempopulerkan istilah talent, suatu kemampuan yang datang secara genetis/alamiah, diberikan secara cuma-cuma.

Pertanyaannya, how do you quantify talent?

Seorang anak 5 tahun yang berlatih biola dengan deliberate practice selama bertahun-tahun akan tampak seperti dianugerahi bakat/talenta.

Begitu pula dengan orang-orang yang dicap pintar.

Pintar itu subjektif.

Sesungguhnya semua orang itu berpotensi menjadi pintar.

Sebagaimana semua orang berpotensi mempunyai otot besar apabila dilatih di gym, otak kita terdiri dari neurons yang akan terus menciptakan koneksi-koneksi baru, dan mempererat koneksi yang selalu digunakan.

talent is overrated

Balik ke masalah sistem pendidikan.

Sesungguhnya masalahnya tidak terletak pada pendidikan, melainkan pada sistem pendidikan itu sendiri.

School is not for everyone, but education is.

Sekolah mengajarkan kita bahwa satu-satunya edukasi yang ada adalah edukasi yang diberikan di sekolah.

Lantas kita hanya belajar ketika kita berada di sekolah, tidak ketika kita di luar lingkungan sekolah.

Dan, kita juga belajar bukan untuk ilmu tapi sekedar untuk nilai.

Akan sangat sulit menemui orang yang menghabiskan waktu liburannya untuk memperdalam ilmu fisika, biologi, kimia, atau matematikanya.

Kalaupun ada, kemungkinan besar ia sedang dalam masa preparasi ujian.

Inti dari yang saya coba utarakan di sini adalah:

  • Sistem pendidikan kita bermasalah

  • Cara belajar tiap orang itu berbeda-beda

  • Edukasi tidak hanya bersumber dari sekolah

  • Tiap orang memiliki potensi yang sama untuk selalu meningkatkan kecerdasannya/kemampuannya

Sir Ken Robinson adalah sosok yang cukup kompeten perihal masalah ini, mungkin anda ingin terus mengikuti perkembangannya via Twitter.

Sekian kata dari saya, tulisan dan referensi akan terus dikembangkan dan ditambahkan lebih lanjut.

Referensi:

Written by Ronaldo Vitto Lewerissa

Read more posts by this author.